Ratusan Pengajar Alquran di Berau Ikuti Diklat Standarisasi Metode Tilawati

 

TANJUNG REDEB – Ratusan pengajar Taman Kanak-Kanak Alquran (TKA), Taman Pendidikan Alquran (TPA), dan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) se-Kabupaten Berau mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Standarisasi Guru Alquran Metode Tilawati bersama Pesantren Alquran Nurul Falah Surabaya di aula gedung STIEM Tanjung Redeb, Senin (05/02/2018).

Diklat standarisasi mengajar Alquran dengan metode tilawati garapan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Berau, bekerja sama dengan BKPRMI Tarakan dan Bulungan, Kalimantan Utara, berlangsung selama dua hari hingga Selasa (06/02/2018) hari ini.

Ketua Panitia Diklat, Syaprudin mengatakan, diklat ini pertama kalinya digelar di Kabupaten Berau dan dibuka langsung oleh Bupati Berau, Muharram. Meski baru pertama kalinya digelar, namun banyak yang antusias mengikuti kegiatan ini. Hal tersebut terbukti dari 100 kuota yang disediakan pihaknya, terlampaui hingga 213 peserta.

“Alhamdulillah antusias peserta bahkan yang tadi kuota untuk 100 orang jadi lebih, sampai kita batasi 200 orang dan masih lebih juga, sampai akhirnya 213 orang peserta yang mengikuti. Sebenarnya pendaftaran sudah kami tutup, tapi karena calon peserta memaksa ingin ikut, dengan besar hati kami terima,” ujar Ketua Panitia, Syaprudin yang ditemui beraunews.com disela-sela diklat, Senin (05/02/2018) siang.

 

Sementara, Sekretaris DPD BKPRMI Kabupaten Berau, Miftahul Ulum mengatakan, selaku pemegang amanat membina ustaz-ustazah di Kabupaten Berau, pihaknya sengaja menggelar diklat yang bertujuan meningkatan kualitas dan memberikan kemudahan bagi ustaz-ustazah selaku pengajar Alquran dalam menularkan ilmunya dengan menggunakan metode tilawati kepada santri atau siswanya.

Tentu saja, kata Ulum, hal itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan partisipasi pihaknya dan Pesantren Nurul Falah dalam upaya meningkatkan kualitas guru agama khususnya guru ngaji.

"Pengalaman yang ada, kualitas dari guru-guru agama (khusunya guru ngaji) di daerah masih banyak yang belum memenuhi standar, sehingga kami tergerak dan punya kepedulian atas hal ini," imbuhnya.

Dalam mengajar Alquran, kata Ulum, memang terdapat berbagai macam metode yang digunakan, tapi dengan menggunakan metode tilawati setidaknya lebih mempermudah dan mempercepat bagi anak-anak untuk bisa membaca Alquran dengan tajwid yang benar dan memahami jenis-jenis lagu-lagu tilawah.

Sejumlah materi yang diberikan kepada peserta diklat diantaranya, pengenalan tentang lagu ros, pemahaman tentang gorip muskilat, teknik munaqosah (cara menguji/mengevaluasi kenaikan jilid), dan strategi mengajar/mengelola kelas serta micro teaching.

"Dalam metode tilawati ada target yang jelas. Misalnya anak yang belum bisa baca Alquran bisa di didik dengan metode tilawati selama tiga tahun saja, itu sudah bisa membaca dan melantunkan Alquran dengan baik dan benar serta sudah bisa khatam," tandas.(advertorial/hnf/bnc)