Didik Anak Zaman Now, Ash Shohwah Gelar Seminar Parenting

 

TANJUNG REDEB – Pernahkah anda mendengar istilah “Kids (anak) zaman now (sekarang)” yang sedang ramai di media sosial? Istilah itu menjadi potret bagaimana karakter dan perilaku anak zaman sekarang.

Bahkan ada yang sampai membuat cuplikan perbandingan anak zaman dulu dengan zaman now. Cuplikan tersebut dimulai dari jenis permainan hingga perbedaan pergaulan anak dulu dan sekarang.

Ditambah lagi, semakin miris melihat keberanian anak membentak atau bahkan melakukan hal yang tidak pantas kepada orang tua kandungnya. Orang yang seharusnya menjadi sosok yang paling dihormati, kini anak bahkan ada yang berani melawan dan bertindak semena-mena terhadap orang tuanya.

Sebagai role model atau pemeran terpenting dalam pertumbuhan dan perkembangan karakter anak, orang tua harus memiliki strategi untuk memberikan bimbingan kepada anak yang sekarang banyak terpengaruh dengan perkembangan zaman, melalui media sosial ataupun jejaring internet.

Untuk itu, Yayasan Pendidikan Dakwah dan Sosial Islam (YPDSI) Ash Shohwah menggelar Seminar Parenting bertajuk “Mendidik Anak Zaman Now” di Era Digital di gedung Aula Ash Shohwah, Jumat (08/12/2017). Seminar dengan narasumber M. Nur Awaluddin itu, dihadiri wali murid mulai dari Play Group, TK, SD, SMP dan SMA Ash Shohwah.

Panitia Seminar, Nasuha mengatakan, orang tua zaman sekarang, sebenarnya banyak "dibodohi sama anaknya". Artinya, jika anak zaman dulu lebih mementingkan kejujuran, tapi tidak anak di zaman sekarang. Sebagai orang tua, kita harus konfirmasi terlebih dahulu apakah benar anak kita berkata jujur.

“Seminar ini mengajarkan kepada para orang tua untuk lebih termotivasi mempelajari dan bersiap diri untuk menghadapi era digital ini,” ujarnya

 

Sementara itu, Kepala Sekolah SMPIT Ash-Shohwah, Eka Saputra Syahramadhansyah menjelaskan, seminar ini digelar pihaknya dengan tujuan, agar orang tua dapat mengcounter (menghadapi/melawan) apa yang telah terjadi di anak zaman now, khususnya dari serangan kecanduan bermain game online melalui internet yang mewabah di era digital sekarang ini.

Game online ini, jelas Eka, berbeda dengan game anak zaman dulu. Game online ini, dimana saja bisa dimainkan anak-anak. Orang tua sebagai penanggung jawab utama pendidikan anak, menjadi pihak yang utama untuk mengcounter kebiasaan anak bermain game online.

“Anak-anak yang bermain game online, pengaruhnya tak hanya pada kesehatannya saja, juga kejiwa anak. Ketika anak kecanduan dan kebiasaan game online, bukan hanya akan meninggalkan salat saja, melainkan juga akan mengabaikan perintah orang tuanya, hingga tidak ingin belajar, karena dia merasa lebih nyaman dengan bermain game online,” ungkapnya kepada beraunews.com.

“Kami berharap, orang tua dan sekolah yang berada di yayasan ini, mulai dari Play Group, TK, SD, SMP dan SMA, bisa meningkatkan kerjasama dengan orang tua, dalam rangka bersama-sama melindungi anak dari penyalahgunaan internet,” tambahnya.

 

Senada dengan Eka, M. Nur Awaluddin menyampaikan, seminar ini sangat penting untiuk menyadarkan orang tua, jika tantangan mengasuh anak di zaman era digital, sudah berbeda. Kini, semua hal dapat diakses kapanpun dan dimanapun melalui internet.

Internet menurut Kak Mumu (sapaan akrab M. Nur Awaluddin-red) ibarat sebuah pisau, ada sisi tajam dan sisi tumpulnya. Artinya, penggunanya yang menentukan baik dan buruknya internet. Ketika digunakan secara salah, maka internet akan berdampak negatif, begitu juga sebaliknya, ketika digunakan secara baik, maka internet akan berdampak positif.

“Ada bahaya mengintai anak kita lewat handphone, dan internet lebih berbahaya kalau orang tua tidak sadar resiko dan potensinya. Melalui seminar ini, kita kenalkan potensi sekaligus resikonya, agar bijak menggunakan internet. Konkritnya, melalui seminar ini, kita sampaikan bagaimana cara mengedukasi anak menggunakan internet dengan bijak, bisa mengatur waktu, konten bahkan bisa menahan diri dari pornografi dan hal negatif lainnya,” tandasnya.(advertorial/Miko Gusti Nanda/bnc)