Keren!!! Jagung Berau Menuju Kancah Nasional

 

 

TANJUNG REDEB – Presentase angka muatan balik (return cargo) yang diterima perusahaan peti kemas di Berau sangat rendah, yakni dikisaran 8 persen per tahunnya. Hal tersebut yang menjadi faktor pihak perusahaan peti kemas menetapkan biaya angkut menjadi lebih tinggi. Hal itu disampaikan General Manager PT Pelindo IV (Persero) Cabang Tanjung Redeb Berau terdahulu, Hardin Hasjim.

Dikatakannya, biaya angkut tersebut akan jauh lebih murah ketika ada muatan balik yang diterima perusahaan peti kemas.
 
“Sangat kecil sekali angkanya. Apalagi jika dibandingkan dengan daerah lain yang bisa mencapai 40 persen untuk muatan baliknya,” ungkapnya saat ditemui beraunews.com, di ruang kerjanya, Selasa (14/02/2017) lalu.
 
Sementara Ketua DPRD Berau, Syarifatul Sya'diah mengatakan, jika perusahaan peti kemas yang melakukan proses pelayanan jasa angkut muat barang tidak menerima muatan balik yang sesuai, maka biaya muatan barang menuju pelabuhan Berau akan lebih tinggi.
 
"Iya, masuk akal memang hal itu. Harusnya arus barang ke luar bisa lebih banyak. Paling tidak seimbang, supaya harga yang diterima juga lebih murah dan menutupi harga angkutnya. Jangan sampai peti kemas kembali kosong," ujarnya saat diwawancarai beraunews.com, Kamis (16/03/2017) lalu.

 

Mengatasi hal tersebut, Bupati Berau, Muharram mengatakan, Pemkab Berau akan melakukan upaya-upaya untuk menekan harga barang, caranya dengan membuka keran seluas-luasnya bagi pelaku usaha untuk berinvestasi di Kabupaten Berau dan mengupayakan barang dari Berau untuk dikirim ke luar daerah melalui perusahaan peti kemas.
 
“Kita harus berpikir bahwa ada barang dari Berau yang dibawa ke luar daerah, misalnya coklat, sahang, jagung dan lain sebagainya. Saya kira perlu diberikan juga peluang-peluang tersebut, agar ke depannya tidak terlalu terbebani biaya angkut barang yang begitu mahal,” katanya saat diwawancarai bnewsTV, Selasa (11/04/2017) lalu.
 
Apa yang disampaikan Bupati Berau, Muharram tersebut perlahan mulai terwujud, seiring dengan upaya yang dilakukan perusahaann peti kemas angkutan barang PT Pelayaran Tempuran Emas (Temas). PT Temas melalui PT Prima Mas Berau (PMB) selaku mitra aktivitas bongkar muatnya, kini sudah mulai konsen pada muatan balik pengiriman produk Berau ke luar daerah. Buktinya, Kamis (21/09/2017) saat dipantau beraunews.com di lokasi, terjadi aktivitas pemuatan jagung ke peti kemas milik PT Temas yang akan di kirim ke Pulau Jawa.

 

Direktur Utama PT PMB, Nuhgrahi Mawan yang ditemui beraunews.com mengatakan, saat ini pihaknya sedang memuat 4 kontainer (peti kemas) atau sebanyak 80 ton jagung giling produksi petani Kabupaten Berau, untuk dikirim ke Pulau Jawa melalui Surabaya.
 
Selama ini, dikatakan Ahong (sapaan akrab Direktur Utama PT PMB, Nuhgrahi Mawan-red), sebelum PT Temas masuk ke Berau, belum pernah jagung dikirim untuk dijual dengan harga standar di Pulau Jawa, lantaran tarif muatan balik dari Berau ke Surabaya saat itu masih tinggi sekali berkisar Rp9 juta hingga Rp12 juta, bahkan sampai menembus Rp15 juta. Akibatnya, muatan balik dari Berau memang minim.
 
“Dengan adanya PT Temas, kita bisa kirim produk dari Berau, karena tarif muatan balik kami hanya Rp5,6 juta. Dampaknya, kini banyak buyer-buyer jagung berdatangan. Untuk tahap awal ini, kami kirim jagung giling produksi petani Berau. Kemarin kita sudah loading (kirim-red) 2 kontainer, dan kapal yang barusan ini akan loading 4 kontainer, dan ini akan terus berlangsung hingga ratusan kontainer,” ungkapnya.
 
Hal ini, dikatakan Ahong, jangan dipandang sepele. Pasalnya, selama ini Indonesia ketergantungan import jagung giling dari Taiwan, untuk memenuhi kebutuhan pakan ayam di tanah air.
 
“Jadi ini sudah mengatasnamakan nasionalisme dan mengangkat nama Kabupaten Berau. Mohon Pemkab Berau dan DPRD Berau terus mensupport petani-petani kita agar nantinya dapat mengangkat nama Berau dikancah nasional sebagai penyuplai jagung giling dari Timur Indonesia. Kami siap mendukung, melalui sarana peti kemas yang kami miliki,” tandasnya.(*/bnc)