Jembatan Eboni Menghubungkan Kampung dengan Kota, Melipat Jarak dan Waktu

 

TANJUNG REDEB – Sejak diresmikannya jembatan Eboni, yang menghubungkan Kampung Tasuk, Kecamatan Gunung Tabur, ke wilayah perkotaan, beberapa bulan lalu, banyak manfaat besar yang dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.

Jembatan yang dibangun oleh PT Berau Coal (PT BC) tersebut, seolah melipat jarak dan waktu yang selama ini menjadi keluhan masyarakat setempat. Sebab, sebelum jembatan tersebut dibangun, kegiatan masyarakat terbilang bergerak cukup lambat dan memakan waktu serta biaya yang lumayan besar.

Sebelum adanya jembatan Eboni, masyarakat yang ingin melakukan kegiatan perekonomian, pendidikan dan sebagainya harus menyeberang menggunakan ketinting (alat transportasi tradisional-red). Bahkan, untuk akses selanjutnya pun mereka harus menginapkan kendaraan di seberang kampung.

Setelah jembatan tersebut berdiri tegak, aktivitas masyarakat pun berubah drastis. Mereka memanfaatkan jembatan yang merupakan salah satu program Corporate Social Responsibility (CSR) PT BC tersebut untuk kegiatan sehari-hari, baik ke pasar, ke sekolah, maupun memperlancar usaha dan bisnis mereka di pusat kota.

Seperti yang dirasakan salah seorang pelajar SMA 2 Berau, Mukhlas, yang bertempat tinggal di kampung tersebut, merasakan banyak perubahan dan manfaat dari bantuan yang diberikan perusahaan tambang batu bara tersebut. Perjalanannya menuju sekolah yang dulunya sangat sulit dan memakan waktu cukup lama, kini menjadi lebih mudah dan tak sampai setengah jam.

“Akses ke sekolah sekarang jadi lebih mudah, sebelumnya harus lewat ketinting dulu baru naik motor lagi ke sekolah. Kalau cuaca bagus ya alhamdulillah. Tapi kalau cuaca tidak mendukung ya kasihan juga. Biasanya pulang sekolah jam 1, tapi sampai ke rumah bisa jadi jam 2 atau lebih dari itu. Habis waktu di jalan saja,” ujarnya.

 

Hal serupa juga turut dirasakan Muthalib (43), warga kampung yang juga seorang pengusaha katering. Sejak jembatan tersebut dibangun, ia merasa sangat terbantukan dalam hal akses jalan dan menekan biaya transportasi kegiatannya.

Pasalnya, sebelum ada jembatan penghubung tersebut, untuk melakukan usahanya, ia harus menempuh perjalanan menuju kota sekitar kurang lebih 1 jam, dengan menyeberangi sungai menggunakan ketinting dan melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan roda empat miliknya yang di parkir di dermaga penyeberangan tersebut.

“Sangat terasa sekali perubahannya. Sejak ada jembatan ini, kami sangat terbantukan. Kalau biasanya butuh waktu 1 jam untuk ke pasar kilo lima (Pasar Sanggam Adji Dilayas-red), sekarang malah tidak sampai setengah jam sudah sampai. Biaya perjalanan juga semakin bisa kami tekan,” ungkapnya saat ditemui beraunews.com beberapa waktu lalu.

Baginya, bantuan yang diberikan PT BC untuk masyarakat lingkar tambang tersebut sangat bermanfaat. Bukan hanya dirinya yang merasakan perubahan tersebut.

 

Tak hanya jembatan Eboni yang menjadikan mudah aktivitas warga sekitar, bahkan memberikan bantuan untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Seperti bantuan PT BC atas mesin air, ketinting, bahkan listrik di kampung tersebut.

“Kami sangat berterimakasih atas apa yang diberikan PT BC kepada masyarakat kampung. Dengan segala fasilitas ini kegiatan kami menjadi lebih mudah,” ucapnya.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: R. Amelia