Bupati : Saya Yakin ke Depan SIT Diprioritaskan

 

TANJUNG REDEB – Untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik di lingkungan Sekolah Islam Terpadu (SIT), Yayasan Ash Shohwah Berau menggelar pelatihan peningkatan profesionalisme guru, Jumat (27/01/2017).

Bertempat di gedung serbaguna SMP IT Ash Shohwah, pelatihan tersebut diikuti sekitar 120 guru yang terdiri dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA. Selain dihadiri oleh sejumlah tamu undangan, kegiatan tersebut juga dihadiri Bupati Berau, Muharram, yang sekaligus menjadi pemateri dan membuka acara secara resmi.

Dalam sambutannya, Muharram menyebutkan, tugas tenaga pendidik sesungguhnya bukan hanya mentransfer ilmu sebagaimana yang ditetapkan dalam kurikulum pendidikan. Lebih dari itu, tenaga pendidik mesti menanamkan nilai-nilai keislaman dan dakwah kepada para muridnya. Hal itu, dikatakannya, dapat membentuk karakter anak sejak dini, sehingga siap menjadi generasi yang dapat menjawab tantangan di masa akan datang.

"Indonesia saat ini sudah sangat krisis, banyak pergerakan yang mengkhawatirkan dan berpotensi memecah belah NKRI. Sudah sepantasnya anak-anak kita mendapatkan bimbingan agama sejak dini. Bukan hanya di rumah, tapi yang lebih penting ketika berada di sekolah. Sebab, masa pembentukan karakter anak itu lebih banyak di sekolah, dan itu adalah tugas gurunya untuk memberikan bimbingan," ujarnya.

Oleh karena itu, ia memprediksi di tahun-tahun yang akan datang, sekolah berbasis Islam akan menjadi pilihan banyak orang tua untuk menitipkan anak-anak mereka menjalani pendidikan. Maka, pelatihan yang dilaksanakan Ash Shohwah terhadap tenaga pendidiknya, sangat relevan dengan masa depan pendidikan Islam di masa akan datang.

"Saya yakin, di masa yang akan datang SIT akan jadi tempat yang diprioritaskan oleh orang tua untuk memilih tempat pendidikan anaknya, khususnya bagi yang punya semangat untuk hidup dengan kondisi keagamaan yang baik. Dan saya yakin, di saat isu Syiah, komunis maupun liberal sedang berkembang di tengah masyarakat, pendidikan berbasis agama ini bisa jadi tameng atau pengaman bagi anak-anak kita," ungkapnya.

 

Meski begitu, ada hal yang harus tetap dipahami oleh tenaga pendidik maupun orang tua murid. Pada tingkat pendidikan SMP hingga SMA, sekolah berbasis keislaman cenderung tidak diminati dan mengalami stagnan. Sementara di tingkat PAUD, TK dan SD, minat di sekolah keislaman cukup membludak. Hal itu, dikatakannya karena faktor otoritas anak yang telah muncul sejak menginjak usia SMP dan SMA, sehingga terjadinya pergeseran sangat mungkin.

"Pada tingkat SMP dan SMA, kebanyakan anak-anak sudah mulai memilih sendiri sekolah mereka. Tidak mau lagi meneruskan di sekolah yang berbasis agama. Karena mungkin merasa tidak nyaman dengan banyaknya aturan untuk mengaji, salat dan sebagainya. Nah, hal inilah yang menjadi tugas para tenaga pendidik di tingkat bawah. Guru harus terus melakukan komunikasi kepada orang tua murid, sampaikan bahwa dengan meneruskan pendidikan di sekolah agama, sistem penjagaan keagamaan mereka melekat bagi si anak, bahkan ketika tidak di sekolah," jelasnya.

 

Sementara itu, Ketua Yayasan Ash Shohwah, Slamet Riyadi mengatakan, ada beberapa hal yang harus dimiliki suatu lembaga jika ingin mencapai keberhasilan. Diantaranya perlu adanya keselarasan dan kerjasama di dalam tubuh lembaga tersebut. Sehingga tidak hanya memiliki slogan dan visi misi yang bagus, tenaga pendidik di sekolah-sekolah agama tersebut dapat membekali diri sendiri dan anak muridnya dengan pemahaman Islamnya.

"Masing-masing sekolah sudah punya slogan yang bagus, dengan substansi yang luar biasa. Tapi tidak bisa kita capai kalau tidak diterapkan beberapa hal tersebut. Perlunya keselarasan karena latar belakang pendidikan dan lingkungan kita yang berbeda-beda, tapi setelah di Ash Shohwah kita sudah jadi satu keluarga. Lazim di sebuah lembaga atau organisasi itu beda pendapat, tapi setelah punya visi misi, itu yang jadikan arah gerak kita jadi sama," tandasnya.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: R. Amelia