Sekilas Tentang Jalan Cinta Para Pejuang Oleh Ustad Salim A Fillah

 

TANJUNG REDEB – Disana ada cita dan tujuan yang membuatmu menatap jauh ke depan. Dikala malam begitu pekat dan mata sebaiknya dipejam saja, cintamu masih lincah melesat jauh melampaui ruang dan masa.

Kelananya menjejakkan mimpi-mimpi, lalu di sepertiga malam terakhir engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu, melanjutkan mimpi indah yang belum selesai. Dengan cita yang besar, tinggi, dan bening, dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja, dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati.

Teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang, menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada iman, walau duri merantaskan kaki. Walau kerikil mencacah telapak sampai engkau lelah, sampai engkau payah sampai keringat dan darah tumpah. Tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum di jalan cinta para pejuang.

Begitu sederet kalimat pembuka yang ditulis oleh Ustad Salim A Fillah, untuk bukunya yang berjudul ‘Jalan Cinta Para Pejuang’. Ustad asal Yogyakarta, yang sempat mengisi seminar dan bedah buku di Hotel Cantika Swara, beberapa waktu lalu, ini telah menebarkan bibit-bibit motivasi, inspirasi dan kekuatan cinta dihadapan sekitar kurang lebih 700 peserta seminar yang terdiri dari pelajar, mahasiswa dan kalangan umum di Berau.

BACA JUGA : Minat Baca Menurun, Yayasan Itqon dan Salimah Gelar Seminar dan Bedah Buku

Buku yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2011 tersebut memang menyelipkan kata ‘cinta’ dijudulnya. Namun, setelah membaca, setiap orang akan menemukan perspektif baru bahwa cinta tak melulu tentang perasaan yang mendayu-dayu yang tidak diajarkan syariat Islam. Bahwa cinta bukanlah sesuatu hal yang hanya berkisar tentang perasaan merah jambu, yang diumbar dan diobral dengan mudah dan murahnya.

“Dari buku ini saya belajar kalau mencintai itu bukan hanya menye-menye antara dua insan berbeda jenis kelamin saja, buku ini menyibak banyak kisah dan pelajaran tentang cinta. Cinta pada Yang Maha Kuasa, cinta kepada Rasul-Nya, cinta kepada ummat, cinta kepada orang tua, dan cinta kepada sesama,” ungkap Ratna, salah satu pembaca buku ‘Jalan Cinta Para Pejuang’.

 

Buku ini juga banyak memberikan pencerahan tentang apa yang seharusnya dilakukan generasi muda saat ini. Di tengah trend kegalauan, budaya barat yang kian mempengaruhi pola pikir generasi muda, dan tontonan yang kurang pantas menjadi tuntunan, tulisan dalam buku Ustad Salim A Fillah, yang juga menulis beberapa judul buku, seperti ’Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan’, seakan menjadi oase sekaligus petunjuk arah. Dengan gaya penyampaian yang dapat dinikmati, mengajak dan tidak menggurui.

Tidak hanya menginspirasi kaula muda yang hadir pada acara seminar dan bedah buku beberapa waktu lalu, buku yang ditulis Ustad yang memiliki selera humor cukup tinggi tersebut juga telah menginspirasi Yayasan Itqon dan organisasi masyarakat Persaudaraan Muslimah (Salimah) Berau, yang telah berkolaborasi dalam menghadirkan Ustad Salim A Fillah di Berau.(Marta)