Tak Hanya Meningkatkan Skill, Diklat Kompetensi Kejuruan Juga Banyak Mengubah Pola Hidup Peserta

 

TANJUNG REDEB – Diklat Kompetensi Kejuruan sebagai ajang mengasah kemampuan dalam dunia kerja yang dilaksanakan PT Berau Coal di Berau Training Center (BTC), rupanya sedikit demi sedikit telah mengubah hidup seorang pemuda asal Kampung Long Lanuk, Kecamatan Sambaliung, Fransisco (25).

Bagaimana tidak? Sejak mengikuti program Diklat yang juga diikuti setidaknya kurang lebih 60 orang pemuda dari berbagai kampung dampingan perusahaan tambang yang identik dengan warna hijau hitam tersebut, pemuda yang sempat bekerja di salah satu perusahaan swasta tersebut merasakan hidup yang jauh berbeda dari sebelumnya. Mulai dari pola hidup keseharian hingga mendapatkan begitu banyak pengalaman dan kawan di barak Diklat.

“Sudah sekitar 1 bulan saya jalani program Diklat ini, dan yang saya rasakan begitu banyak perbedaan dan akhirnya merubah saya jadi lebih baik. Contoh kecilnya saja bangun pagi. Kalau biasanya bangun saya tidak jam 4 pagi, di sini kami justru terbiasa bangun sebelum ayam berkokok,” kisahnya saat ditemui beraunews.com, beberapa waktu lalu di sela-sela kegiatannya.

Berawal dari kesadarannya bahwa seorang pekerja yang tidak boleh hanya mengandalkan kekuatan fisik, ia pun akhirnya termotivasi mengikuti kegiatan Diklat tersebut dengan tujuan meningkatkan kemampuan baik hardskill maupun softskill yang dirasanya lebih penting dari sekadar menjadi seorang karyawan.

“Awalnya saya tertarik ikut program ini karena saya sadar di kampung kami kebanyakan orang-orangnya non skill, ya bebas bekerja apa saja yang menguras begitu banyak tenaga. Sementara yang paling berharga itu adalah softskill kita. Apalagi kalau sudah ada penerimaan semacam operator kebanyakan yang diambil dari luar, sebab kita orang kampung ini tidak punya skill untuk ke sana,” ujarnya.

Dengan adanya program Diklat yang dijalaninya tersebut, ia pun mengaku cukup bersemangat dan termotivasi untuk menjadi pekerja yang lebih baik lagi. Apalagi bukan hanya sekadar latihan mental dan fisik yang dijalani, ia juga bersyukur sebab dalam Diklat tersebut juga diberikan materi serta praktek langsung yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya.

“Semoga setelah proses Diklat ini selesai, saya bisa dapat pekerjaan yang lebih baik dan bisa punya peran dalam sebuah perusahaan, apalagi kita bekerja pada wilayah kita sendiri. Dan saya juga sangat berterimakasih kepada PT BC yang dalam hal ini sudah menyediakan program Diklat bagi kami,” ucapnya.

 

Bukan hanya Fransisco, Muhammad Tang, pemuda asal Kampung Tumbit Melayu, Kecamatan Teluk Bayur, juga merasakan hal demikian. Selama mengikuti program Diklat tersebut, ia juga banyak menemukan perubahan dalam dirinya. Termasuk pola beribadah yang lebih teratur dan disiplin.

“Kalau di barak kami harus ikut semua aturan yang ada. Termasuk kalau waktunya salat ya salat. Waktunya makan ya makan. Ini yang membuat saya merasa jadi lebih baik setelah ikut Diklat ini,” katanya.

Pemuda lulusan SLTA pada tahun 2015 lalu ini, mengaku sebelumnya sempat bekerja sebagai penjaga warnet. Tak ingin hanya sampai di situ, kemudian ia berusaha memotivasi dirinya agar bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih menjanjikan dan bisa membawanya ke arah masa depan yang terang.

Disaat mengetahui adanya program Diklat tersebut, ia lantas meminta izin dari kedua orangtuanya. Hingga saat ini ia pun sangat bersyukur dapat bergabung dalam proses Diklat yang sudah terjadwalkan hingga enam bulan ke depan.

“Kebetulan pas di belakang rumah saya itu adalah tambang. Tapi saya kerjanya bukan di tambang. Dengan Diklat ini saya bisa jadi lebih disiplin, ibadah terjaga, dapat teman yang banyak, bahkan makan kita juga terjaga. Saya sangat senang ikut Diklat ini,” ungkap pemuda kelahiran 21 tahun silam tersebut.

Dengan mengikuti Diklat tersebut, ia juga berharap dapat segera mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan. Tak lupa ia juga mengucapkan terimakasih atas program Diklat yang di lakukan PT BC untuk meningkatkan skill mereka pada dunia kerja.

“Kemarin itu lamaran kerja saya kirim ke mana-mana belum ada juga yang menerima. Tapi setelah pelatihan seperti ini saya sangat berharap skill yang nanti saya dapatkan bisa mengantarkan pada posisi pekerjaan yang saya dambakan. Dan itu bukan hanya harapan dari saya, tapi juga seluruh teman-teman yang ada di sini,” tuturnya.

Sementara itu, Kiki Hardianto, pemuda asal Kampung Tumbit Dayak, Kecamatan Teluk Bayur, yang juga merupakan peserta Diklat, mengatakan proses Diklat yang ia jalani saat ini membuatnya menjadi pemuda yang tangguh.

“Kami di sini dididik jadi pemuda yang kuat, tangguh, disiplin, dan saling tolong menolong,” ucap mantan Driver di salah satu perusahaan swasta tersebut.

Selama mengikuti kegiatan tersebut, ia merasakan banyak suka dan duka. Namun tidak menjadikannya menyerah dalam menjalani proses menjadi lebih baik tersebut.

“Joging tengah hari, salat jadi tepat waktu dan tidak bolong-bolong lagi. itu yang paling saya rasakan setelah kurang lebih 1 bulan di sini,” katanya.

Dengan segala ilmu dan pengetahuan yang diberikan para instruktur, ia sangat berharap ketika menyelesaikan program Diklat tersebut dapat membawa pulang dan memanfaatkan apa yang ia dapatkan ke dunia pekerjaan.

“Karena semua perusahaan saat ini pasti membutuhkan yang berskill. Kalau kita yang tidak punya skill pasti kerjanya ya lebih keras dari yang punya skill. Jadi menurut saya Diklat ini sangat berharga untuk mencari pekerjaan di luar sana,” tandasnya dengan menyertakan ucapan terimakasih kepada PT BC yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan guna meningkatkan kemampuan mereka.

 

Dedy Supriansyah, salah seorang Instruktur pada program Diklat tersebut mengatakan dalam memberikan pelatihan kepada para peserta, menemui kendala yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni tingkat keegoisan anak muda yang terkadang tidak mudah untuk diatur dan diarahkan dalam sebuah pekerjaan. Namun kendala tersebut baginya tidak menjadi masalah besar pada proses Diklat.

“Mereka ini kan masih muda-muda. Kadang mengedepankan egonya masing-masing. Namun tetap yang saya acungi jempol adalah semangat mereka dalam menjalani proses ini luar biasa. Bahkan di sini juga mereka banyak yang memiliki jiwa ingin tahu yang begitu besar, sehingga tidak ada berhenti dalam mempelajari sesuatu yang baru,” tutupnya.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: R. Amelia