Keluarga Pasien Keluhkan Air Tak Mengalir, Direktur PDAM Sidak Ke RSUD dr. Abdul Rivai

 

TANJUNG REDEB – Ramainya perbincangan di grup media sosial Whatsapp terkait keluhan keluarga pasien RSUD dr. Abdul Rivai jika air di kamar mandi di beberapa ruang rawat inap tidak mengalir, langsung ditanggapi serius oleh Direktur PDAM Tirta Segah, Adief Mulyadi.

Mantan Direktur PDAM Kota Bontang itu bersama Kepala Sub Bagian (Kasubag) Produksi dan Pendistribusian PDAM Tirta Segah, Asra Samsut dan Padaloan Manurung pun melakukan inspeksi dadakan ke RSUD dr. Abdul Rifai, Minggu (27/11/2016) malam. Terlihat, pihak PDAM Tirta Segah langsung memeriksa beberapa kran air yang ada pada kamar mandi dan wastafel di ruang rawat inap rumah sakit plat merah tersebut.

Disela-sela sidak, Adief menilai, tidak mengalirnya air pada kamar mandi di beberapa ruang rawat inap, disebabkan kurang maksimalnya sistem penampungan (bak air) maupun pendistribusian air yang ada di internal rumah sakit tersebut.

“Kalau di ruang Bougenville itu, airnya mengalir saja. Disini (ruang Edelweiss-red) saja yang tidak. Artinya, memang ini permasalahan di internal rumah sakit dan kita akan buatkan rekomendasi karena kayaknya memang sistem pipanya yang kurang optimal. Banyak pipa-pipa yang belok-belok, jadi debitnya pelan,” ungkapnya kepada beraunews.com di lokasi sidak. 

Salah satu keluarga pasien ruang Edelweiss yang ditemui Adief pun membenarkan terkait kondisi tidak mengalirnya air pada kamar mandi di ruang rawat inap yang digunakannya. Namun, jelas pria yang enggan disebut namanya itu, sebelumnya pihak RSUD memang telah memberitahukan kepada pihak keluarga pasien terkait kondisi tersebut.

“Pas mau masuk, sudah dibilang airnya tidak mengalir. Tapi, ya sudah kita masuk, baru kita isi langsung dari penjual air bersih. Pakai selang panjang, sekalian 2-3 ruangan diisi juga,” jelasnya.

 

Sementara itu, Kepala Instalasi Pemeliharaan Sarana dan Prasarana (IPSRS) RSUD dr. Abdul Rivai, Arif mengatakan, rumah sakit hanya memiliki 1 bak penampungan air dengan kapasitas hingga 120 kubik. Sementara, untuk mendistribukan air ke kamar mandi dan sebagainya, pihaknya juga hanya memanfaatkan 1 pompa air.

“Jadi kita kan menunggu kalau (bak penampungan) ini penuh. Tapi, kalau umpamanya itu belum penuh, ada yang teriak misalnya yang dekat-dekat, kita alirkan,” katanya.

Dalam kondisi tidak penuh bak penampung itu, lanjut Arif, menyebabkan pendistribusian air ke masing-masing kamar mandi yang ada di ruang rawat inap menjadi tidak merata. Beberapa ruangan yang terlebih dulu dilewati air akan mengalir lebih cepat ketimbang yang jauh dari bak penampungan berada.

“Akhirnya dapatnya tidak merata, tidak full. Artinya, mungkin di daerah sini dapat, disana belum dapat tapi sudah habis (airnya),” lanjutnya.

 

Kapasitas bak yang mencapai 120 kubik, tambah Arif, juga tidak serta merta bisa langsung bisa dialirkan semua air yang ada didalamnya. Pasalnya, tentu ada pengendapan lumpur dan sebagainya yang terjadi sehingga maksimal hanya mampu menampung air bersih sekitar 100 kubik.

Namun, jelas Arif, kondisi tidak mengalirnya air pada beberapa ruang rawat inap juga tidak lepas dari kondisi pendistribusian air bersih PDAM yang selama beberapa hari ini tidak normal. Arif menilai, air yang mengalir dari pipa pendistribusian milik PDAM tidak berjalan seperti debit air pada normalnya.

“PDAM kan baru kemarin sama hari ini mungkin agak normal, tapi itu gak kuat. Ini mungkin kalau memang sampai 8 jam 9 jam, baru penuh. Tapi, ini tidak sempat, paling ini sebentar dengar orang teriak, kita alirkan,” pungkasnya.(Andi Sawega)