Database Irigasi dan Sungai, Bisa Diakses Melalui Software GIS

 

TANJUNG REDEB – Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Berau akan segera memiliki basis data (database) jalan, irigasi dan sungai di Kabupaten Berau. Selain laporan ruas jalan dan kondisi irigasi dan sungai, database itu juga berisi laporan kondisi masing-masing ruas jalan dan sungai yang dilengkapi dengan fasilitas yang mudah dijalankan. Hal ini diungkapkan Kepala DPU Berau, Taupan Majid beberapa waktu lalu.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Pengairan DPU Berau, Andi Marewangeng melalui salah satu kasinya mengatakan, pihaknya saat ini telah melakukan pemetaan untuk pembuatan database irigasi dan sungai tersebut. Tahap awal pemetaan, dimulai dengan melakukan inventarisasi sungai-sungai yang ada di Kabupaten Berau.

“Data nanti berikutnya kita lanjutkan ke database, itu pun nanti masuk dalam program 2017. Mudah-mudahan diakomodir,” katanya kepada beraunews.com, Rabu (16/11/2016).

Data itu, lanjutnya, akan dibuat ke dalam sistem database perangkat lunak publik (open source system) yaitu “Geographic Information System” (GIS) atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut Sistem Informasi Geografis. GIS merupakan suatu perangkat lunak (software) yang dapat digunakan untuk mengelola (input, manajemen, dan output) data spasial atau data yang bereferensi geografis.

“Nanti dalam bentuk database, GIS software jadi tinggal klik. Apa saja yang diperlukan data disitu ada,” lanjutnya.

BACA JUGA : DPU Berau Segera Miliki Database Jalan, Irigasi dan Sungai

Database irigasi dan sungai yang ada di GIS, tambahnya, akan terintergrasi dengan pembangunan infrastruktur irigasi dan sungai yang sedang, telah atau belum dibangun pemerintah daerah. Bahkan, dapat menjadi data pendukung dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Berau.

“Hasil ini juga saya koordinasikan dengan Balai Besar Sungai Provinsi Kaltim, Samarinda, supaya tidak tabrakan. Selama ini kan kita tidak punya, termasuk master plan irigasi,” tambahnya.

Selain itu, menurutnya, dengan adanya database itu, pembangunan infrastruktur khususnya irigasi dapat berjalan secara berkala dan berkelanjutan. Mulai dari pembangunan, normalisasi atau pemeliharaan hingga peningkatan irigasi yang sudah, namun telah dalam kondisi rusak.

“Jadi kerjaan irigasi itu kan berkelanjutan. Misalnya, tahun ini kabupaten bikin ini karena konek pekerjaannya dengan sumber daya air provinsi, nanti pada saat kita buat master plan itu bisa dikonekkan dengan mereka. Mereka maunya program tahun ini sampai 5 tahun ke depan apa, kami apa. Selama inikan sering tabrakan, kadang tidak nyambung,” ujarnya.

Terkait potensi Daerah Irigasi (DI) yang ada di Kabupaten Berau, dirinya tidak terlalu mengetahui secara detail. Data itu, jelasnya, merupakan kewenangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dipertan) Berau. Untuk saat ini, pihaknya masih mengusulkan rencana untuk pembuatan master plan irigasi.

“Selama ini kami (membangun irigasi) berdasarkan permintaan dari P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air) sama kelompok tani. Jadi pembangunan yang berkelanjutan itu sulit. Nanti dari provinsi ini ada dana yang kurang, bisa tidak nyambung, kalau bisa ya lanjut,” jelasnya.

Dengan adanya master plan irigasi itu, diyakininya, pembangunan yang berkelanjutan pada infrastruktur pertanian seperti irigasi, dapat berjalan maksimal. Yakni, untuk mengairi wilayah pertanian yang memiliki potensi menghasilkan produk pertanian yang melimpah.

“Harusnya begitu, misalnya 2 tahun pertama bikin ini. Dua tahun ke depan, apa mau lanjut atau mau bikin konektifitas yang lain. Kalau tahun ini bikin ini, tahun depan pindah lagi, ya tidak nyambung. Itulah fungsinya master plan irigasi,” pungkasnya.(Andi Sawega)