Waspada!!! Kekerasan Anak Lahirkan Generasi Buruk

 

TANJUNG REDEB – Maraknya kasus kekerasan anak dan perempuan yang hingga kini masih menghantui Indonesia, membuat Rumah Keluarga Indonesia (RKI) Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Berau, berinisiatif menggelar talkshow kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Sosialisasi tersebut dilakukan guna meminimalisir kasus kekerasan yang terjadi setiap tahunnya, dengan memberikan kegiatan berupa pembekalan, pengayaan wawasan dan pengetahuan serta sharing (berbagi) kepada para orang tua dan guru serta masyarakat dalam rangka peningkatan perlindungan anak dan perempuan.

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Ash Shohwah, Jalan Albina, Minggu (16/10/2016) tersebut menghadirkan Kepala Bidang Perlindungan dan Kesejahteraan Anak Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Berau, Noryati, dan Psikolog Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Etna Anjani.

Dalam kegiatan yang dihadiri hampir sekitar 150 guru dari sekolah swasta PAUD hingga SMA sederajat se-Kecamatan Tanjung Redeb, Noryati memaparkan, kekerasan yang dialami anak akan membentuk diri mereka sebagai individu yang tidak berkemampuan mengasuh, merawat dan mendidik dengan cara yang lemah lembut dan penuh kasih sayang.

"Ketika anak tersebut dewasa, maka dia bisa menjadi pribadi yang suka melakukan kekerasan kepada orang lain, termasuk kepada anak-anaknya sendiri dan akan terus menerus menjadi rantai buruk bagi lahirnya generasi yang lebih buruk dikemudian hari," ungkapnya.

 

Sementara itu, Etna memaparkan dampak psikologis korban kekerasan yang dilakukan kepada anak, diantaranya mimpi buruk, ketegangan emosi, stres, depresi, gangguan makan, pelarian ke narkoba, kenakalan remaja, dan sebagainya.

"Dampak kekerasan kepada anak ini sangat luar biasa sekali. Bukan hanya fisik, tapi mental yang paling berbahaya dikemudian harinya. Maka tidak heran kalau anak-anak yang pernah mendapat perlakuan kekerasan, akan mengulangi hal yang sama kepada keturunannya kelak," ujarnya.

Adapun upaya yang dapat dilakukan jika menemukan kekerasan di lingkungan sekitar, masyarakat maupun korban sendiri dapat segera melaporkan hal tersebut kepada pihak berwenang seperti polisi, Ketua RT, P2TP2A, untuk meminta perlindungan hukum.

"Apa yang harus dilakukan pada korban? Segera lapor pada RT dan polisi serta minta bantuan pendampingan psikologis atau perlindungan hukum KPAI di Nomor (021) 31901556, P2TP2A, Kementrian PP dan PA di Nomor 082125751234," katanya.

Dari sosialisasi tersebut, diharapkan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan dapat diminimalisir atau bahkan dihilangkan dari segala penjuru Indonesia, khususnya Kabupaten Berau.(Marta)