Berhasil Balik Keadaan Rugi Menjadi Laba, Ini Yang Terjadi Pada Keuntungan PDAM Tirta Segah

 

TANJUNG REDEB – Prestasi sebagai PDAM dengan operasional terbaik pertama untuk katagori PDAM dengan penduduk 200 ribu hingga 500 ribu jiwa dari Perpamsi Award tahun 2017, memang pantas diraih PDAM Tirta Segah. Pasalnya, memang banyak indikator keberhasilan yang mampu diraih PDAM Tirta Segah sejak dipimpin Adief Mulyadi, mulai dari penambahan sambungan baru, rutin melakukan pengujian kualitas air hingga capaian kinerja keuangan yang fantastis.

Khusus capaian kinerja keuangan, dalam acara temu pelanggan dan survei kepuasan pelanggan gelaran PDAM Tirta Segah di Hotel Derawan Indah, beberapa waktu yang lalu, Direktur PDAM Tirta Segah Adief Mulyadi mengungkapkan, awal dirinya memimpin PDAM pada tahun 2016, posisi keuangan PDAM pada tahun 2015 berdasarkan hasil audit akuntan publik dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), berada pada posisi mengalami kerugian mencapai Rp7 miliar.

“Kami juga terus berupaya untuk makin sehat di sisi keuangan. Alhamdulillah, pada akhir tahun 2016, kami bisa mengembalikan keadaan tanpa menaikkan tarif air, dengan posisi untung Rp3,3 miliar,” ungkapnya.

Atas keuntungan yang diraih tersebut, Adief menyampiakan permohonan maaf kepada Pemerintah Kabupaten maupun DPRD Berau, lantaran keuntungan tersebut tidak bisa dikembalikan pihaknya ke kas daerah milik pemerintah daerah. Pasalnya, berdasarkan informasi perpajakan dan kebijakan tax amnesty atau sesuai dengan aturan, maka sebagian besar dari keuntungan yang diraih itu, “terpaksa” diserahkan pihaknya kepada pemerintah pusat melalui Kantor Pelayanan Pajak.

“Ini bukan maunya PDAM untuk tidak menyampaikan keuntungan tersebut kepada pemerintah daerah, tetapi karena aturan yang meminta kita begitu. Kami berharap, keadaan ini bisa dimaklumi,” bebernya.

Namun demikian, Adief menegaskan, dalam menjalankan tugas, pihaknya lebih mengutamakan pelayanan, tidak semata-mata mencari keuntungan. Artinya, lanjut Adief, pihaknya mengutamakan keseimbangan antara kinerja pelayanan dengan kinerja keuangan.

“Yang lebih penting dari yang kami lakukan adalah bagaimana semakin banyak masyarakat Kabupaten Berau yang menikmati air bersih dari PDAM. Selain itu, bagaimana kami menjaga kinerja keuangan PDAM agar tetap sehat,” imbuhnya.

Menanggapi apa yang disampaikan Adief Mulyadi tersebut, Bupati Berau Muharram justru mengungkapkan rasa bangganya terhadap kinerja PDAM Tirta Segah di bawah kepemimpinan Adief Mulyadi. Menurut orang nomor satu di Bumi Batiwakkal itu, dirinya selaku Bupati, terus terang mengapresiasi dan berterima kasih kepada seluruh jajaran PDAM atas kinerja optimalnya yang mampu membalik keadaan yang dulunya rugi kurang lebih Rp7 miliiar, menjadi keuntungan.

Keuntungan yang diraih PDAM ini, lanjut Bupati Muharram, akan menjadi evaluasi dirinya dan Wakil Bupati, Agus Tantomo. Jika nantinya, keuntungan PDAM sudah memadai, maka sebagian keuntungan akan digunakan untuk subsidi silang bagi pelanggan yang kurang mampu. Subsidi silang yang dimaksud, jelas Bupati Muharram, untuk pelanggan PDAM di kelas bisnis dan perhotelan, tarif airnya akan mengalami sedikit kenaikan, namun demikian, untuk pelanggan kurang mampu, tarif airnya justru akan diturunkan.

“Waktu saya kampanye, saya pernah menjanjikan akan menurunkan tarif air PDAM jika nanti terpasang 400 liter per detik, bukan setelah 200 liter ini. Itu dulu yang saya janjikan. Yang jelas, akan kita evaluasi pendapatan PDAM untuk memberikan semacam ketenangan hidup untuk pelanggan yang ekonominya lemah,” tegasnya.

BACA JUGA : Hadiri Temu Pelanggan 2017, Bupati Apresiasi Kinerja PDAM Tirta Segah

Terkait tingginya setoran pajak PDAM hingga tak optimal berkontribusi ke kas daerah, Bupati mengatakan, sebaiknya PDAM menggelontorkan pembiayaan untuk melakukan pembenahan pelayanan kepada masyarakat semaksimal mungkin, sehingga keuntungan yang diakui PDAM tidak terlalu besar. Pasalnya, jika keuntungan yang diakui terlalu besar, maka 40 persen keuntungan itu harus dibayar pajaknya.

Selain itu, keuntungan yang besar itu juga sebagai akibat dari tak bisa diakuinya beban akumulasi penyusutan IPA dan Intake yang hingga kini tak kunjung diserahterimakan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Berau ke PDAM Tirta Segah.

“Untung pajak menerima banyak. Saya bilang, kalau begini caranya, hampir habis keuntungan PDAM diambil oleh pajak. Sementara untuk PAD tidak ada,” tuturnya.

Ia menegaskan, tujuan membangun PDAM bukanlah mencari keuntungan yang banyak, yang diinginkannya bagaimana airnya lancar, kontinuitasnya berlangsung dan kualitas airnya terjaga.

“Keuntungan itu nomor dua, dan yang terpenting saat ini adalah masyarakat Kabupaten Berau bisa menikmati air yang kontinu secara terus menerus, kualitasnya bagus dan hasilnya bisa dirasakan. Inilah yang dilakukan PDAM, sehingga secara nasional bisa berprestasi,” tandasnya.(advertorial/bnc)